Strategi Pelatihan

Cara Menyusun Training Need Analysis (TNA) Langkah demi Langkah

Anggaran pelatihan sering habis untuk kelas yang populer, bukan yang dibutuhkan. TNA yang rapi membalik urutannya, masalah bisnis dulu, baru program.

Liu Purnomo5 menit baca

Training Need Analysis atau TNA adalah proses sistematis untuk menemukan selisih antara kompetensi yang dibutuhkan sebuah pekerjaan dan kompetensi yang benar-benar dimiliki karyawan, lalu menentukan apakah selisih itu paling tepat ditutup dengan pelatihan. Hasilnya adalah daftar kebutuhan pelatihan yang terprioritas, bukan sekadar daftar keinginan.

Tanpa TNA, perencanaan pelatihan cenderung mengikuti tren, permintaan atasan yang paling vokal, atau sisa anggaran tahun lalu. Akibatnya kelas terasa ramai tetapi kinerja tidak bergerak, dan bagian HRD kesulitan mempertanggungjawabkan biaya di depan manajemen.

Panduan ini membahas tiga level analisis, metode pengumpulan data yang realistis untuk perusahaan menengah, dan cara mengubah temuan menjadi rencana yang bisa dieksekusi dalam satu tahun anggaran.

Inti TNA dalam satu kalimat

Kebutuhan pelatihan sama dengan kompetensi yang dipersyaratkan dikurangi kompetensi aktual, dengan catatan selisih itu memang disebabkan kurangnya pengetahuan atau keterampilan, bukan oleh sistem, alat, atau motivasi.

Tiga level analisis yang saling mengunci

Level organisasi melihat arah bisnis. Pertanyaannya adalah sasaran apa yang dikejar tahun ini, perubahan apa yang sedang terjadi, dan regulasi apa yang mewajibkan kompetensi tertentu. Sumbernya rencana strategis, target KPI perusahaan, hasil audit, dan keluhan pelanggan.

Level jabatan atau tugas memetakan kompetensi yang dibutuhkan setiap posisi. Uraian jabatan, standar kompetensi kerja nasional, dan prosedur operasi menjadi acuan. Di sini HRD menyusun profil kompetensi beserta tingkat kemahiran yang diharapkan untuk tiap jabatan.

Level individu membandingkan profil itu dengan kondisi tiap karyawan. Datanya berasal dari penilaian kinerja, observasi atasan, asesmen mandiri, dan hasil tes. Ketiga level harus terhubung, karena kebutuhan individu yang tidak mendukung sasaran organisasi sebaiknya tidak menjadi prioritas anggaran.

Metode pengumpulan data yang realistis

Survei dan kuesioner cocok untuk menjangkau banyak karyawan sekaligus, misalnya asesmen mandiri terhadap daftar kompetensi dengan skala satu sampai lima. Kelemahannya, orang cenderung menilai diri terlalu tinggi, sehingga hasilnya perlu dibandingkan dengan penilaian atasan.

Wawancara dan diskusi kelompok terarah memberi konteks yang tidak muncul di angka. Ajak atasan langsung dan dua atau tiga pemegang jabatan yang berkinerja baik untuk menjelaskan apa yang membedakan hasil kerja yang bagus dan yang biasa saja.

Data operasional sering menjadi bukti paling objektif. Tingkat cacat produk, waktu henti mesin, angka kecelakaan kerja, keluhan pelanggan, dan temuan audit menunjukkan di mana kinerja bocor. Kombinasikan minimal dua metode agar kesimpulan tidak bergantung pada satu sumber.

Staf HRD menganalisis data kompetensi karyawan
Gabungkan asesmen mandiri, penilaian atasan, dan data operasional agar temuan TNA tidak bias.

Langkah menyusun TNA dari nol

Urutan berikut bisa dijalankan dalam enam sampai delapan minggu untuk satu unit bisnis. Untuk perusahaan besar, mulai dari dua atau tiga departemen percontohan lebih aman daripada menyapu seluruh organisasi sekaligus.

  1. 01Tetapkan sasaran bisnis yang ingin didukung, misalnya menurunkan kecelakaan kerja atau mempercepat penutupan penjualan.
  2. 02Pilih jabatan kunci yang paling berpengaruh pada sasaran tersebut.
  3. 03Susun profil kompetensi tiap jabatan beserta tingkat kemahiran yang diharapkan.
  4. 04Kumpulkan data kompetensi aktual dengan minimal dua metode.
  5. 05Hitung gap per kompetensi dan per karyawan, lalu kelompokkan.
  6. 06Saring gap yang bukan masalah pelatihan, seperti alat rusak, prosedur tidak jelas, atau beban kerja berlebih.
  7. 07Prioritaskan berdasarkan dampak bisnis, urgensi regulasi, dan jumlah orang yang terdampak.
  8. 08Terjemahkan prioritas menjadi program, format, jadwal, dan anggaran.

Langkah keenam paling sering dilewati padahal paling menghemat biaya. Bila operator salah mengatur mesin karena instruksi kerjanya membingungkan, memperbaiki instruksi kerja jauh lebih murah daripada mengirim semua operator ke kelas.

Untuk tim yang baru pertama kali menyusun TNA, kelas analisis kebutuhan pelatihan memberi kerangka dan formulir yang siap dipakai, sehingga HRD tidak perlu merancang instrumen dari awal.

Contoh gap kompetensi pada jabatan supervisor produksi

Misalkan profil supervisor produksi mensyaratkan kemampuan memimpin rapat harian, membaca data kualitas, dan menerapkan prosedur K3 pada tingkat mahir. Hasil asesmen menunjukkan rata-rata tim berada di tingkat menengah pada pembacaan data kualitas dan dasar pada kepemimpinan rapat.

Data operasional mendukung temuan itu. Rapat harian sering molor tanpa keputusan, dan tren cacat produk baru disadari setelah keluhan pelanggan masuk. Sementara itu angka kecelakaan rendah dan audit K3 bersih, sehingga kompetensi K3 tidak menjadi prioritas tahun ini.

Keputusan yang masuk akal adalah pelatihan singkat tentang kepemimpinan tim lini depan dan analisis data kualitas sederhana, disertai pendampingan atasan selama sebulan. Pendekatan berbasis kompetensi seperti ini dibahas lebih dalam di kelas competency based TNA.

Kesalahan umum yang membuat TNA mubazir

Kesalahan pertama adalah memperlakukan TNA sebagai survei minat. Menanyakan pelatihan apa yang ingin diikuti karyawan menghasilkan daftar populer, bukan daftar kebutuhan. Pertanyaan yang lebih tajam adalah tugas apa yang paling sulit dikerjakan dengan baik dan apa akibatnya bagi pekerjaan.

Kesalahan kedua adalah berhenti di laporan. TNA yang tidak diikuti rencana tindak lanjut, penanggung jawab, dan cara mengukur hasil hanya menjadi dokumen arsip. Tetapkan indikator keberhasilan sejak awal agar dampaknya bisa dihitung, seperti dijelaskan di panduan mengukur ROI pelatihan.

Kesalahan ketiga adalah menyusun TNA sekali lalu memakainya bertahun-tahun. Kebutuhan kompetensi berubah mengikuti teknologi, regulasi, dan strategi. Tinjau ulang setidaknya setiap tahun dan setiap kali ada perubahan besar dalam organisasi.

Dari temuan TNA menuju program yang berjalan

Setelah prioritas jelas, tentukan format yang paling efisien. Kebutuhan yang dialami banyak orang dalam satu perusahaan biasanya lebih hemat lewat kelas in-house, sementara kebutuhan satu atau dua orang lebih cocok dikirim ke kelas publik. Pertimbangannya kami uraikan di perbandingan in-house dan kelas publik.

Susun hasil TNA menjadi kalender pelatihan tahunan dengan anggaran per kuartal. Libatkan atasan langsung sejak awal, karena merekalah yang memastikan peserta sempat mempraktikkan materi setelah kelas selesai.

Tim GAS dapat membantu memfasilitasi TNA di perusahaan Anda, lalu menyusun program yang menjawab temuan tersebut. Lihat juga kelas TNA dan pengukuran dampak pelatihan bila tim HRD ingin menguasai seluruh siklusnya sendiri.

Pertanyaan umum

Apa itu Training Need Analysis?

Training Need Analysis atau analisis kebutuhan pelatihan adalah proses untuk mengidentifikasi selisih antara kompetensi yang dibutuhkan pekerjaan dan kompetensi aktual karyawan, lalu menentukan apakah pelatihan adalah cara yang tepat untuk menutup selisih tersebut.

Kapan TNA sebaiknya dilakukan?

Idealnya setiap tahun sebelum anggaran pelatihan disusun, serta setiap kali ada perubahan besar seperti teknologi baru, regulasi baru, restrukturisasi, atau penurunan kinerja yang signifikan.

Siapa yang terlibat dalam penyusunan TNA?

Bagian HRD atau Learning and Development sebagai koordinator, atasan langsung sebagai sumber penilaian, pemegang jabatan sebagai narasumber, dan manajemen sebagai penentu sasaran bisnis yang ingin didukung.

Apa saja metode pengumpulan data TNA?

Metode yang umum dipakai adalah survei asesmen mandiri, penilaian atasan, wawancara, diskusi kelompok terarah, observasi kerja, tes kompetensi, dan analisis data operasional seperti tingkat cacat, keluhan pelanggan, atau temuan audit.

Apakah semua gap kompetensi harus diselesaikan dengan pelatihan?

Tidak. Gap yang disebabkan alat rusak, prosedur tidak jelas, beban kerja berlebih, atau masalah motivasi lebih tepat diatasi dengan perbaikan sistem atau manajemen. Pelatihan hanya efektif untuk gap pengetahuan dan keterampilan.

training need analysisanalisis kebutuhan pelatihangap kompetensiperencanaan pelatihan karyawantna hrd

Program terkait

Liu Purnomo

Ditulis oleh

Liu Purnomo

Pendiri GAS dan praktisi pelatihan serta sertifikasi kompetensi

Menulis tentang pengembangan kompetensi kerja, sertifikasi BNSP dan Kemnaker, serta cara membuat pelatihan benar-benar terpakai setelah kelas selesai.

Baca juga

Artikel lain yang berkaitan

Mau tanya-tanya atau konsultasi seputar "Cara Menyusun Training Need Analysis (TNA) Langkah demi Langkah" ini?

Ngobrol langsung dengan tim PT Gerbang Akselerasi Sukses lewat WhatsApp. Tanyakan apa saja, kami bantu carikan jawaban atau petakan langkahnya tanpa biaya.

Jam layanan Senin sampai Jumat, 08.00 hingga 17.00 WIB. Di luar jam tersebut, pesan Anda tetap kami balas pada hari kerja berikutnya.